Selamat Datang

Web Site Indonesia Rumah Ternak yang merupakan Group dari Indonesia Rumah Aqiqah, View Land, Tumbuh Comunity. Kami merupakan usaha dalam bidang Agribisnis.

Kantor pusat kami berada di malang, sedangkan peternakan kami berada di malang dan batu. Usaha yang kami kembangkan bergerak dalam bidang Agro dan sekarang masih bergerak dalam peternakan kambing dan sapi. Untuk Perkebunan yang kami tawarkan merupakan perkebunan Apell.

Kami membuka peranserta masyarakat luas dalam bantuan modal, dimana agar perkembangan usaha yang ada semakin berkembang. Sistim yang kami terapkan bagi pemodal adalah dengan sisitim bagi hasil yang di tetapkan di awal perjanjian.

JAYALAH PETERNAKAN INDONESIA

CO.CC:Free Domain
Tampilkan postingan dengan label Pertanian Buah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian Buah. Tampilkan semua postingan

Pepaya Rumah Kaca di Gunung Baiyun


Pepaya Rumah Kaca di Gunung Baiyun


Pepaya jamaknya ditanam di lahan terbuka. Namun, di Gunung Baiyun, Ghuangzhou, Cina, Carrica papaya ditumbuhkan dalam
rumah kaca berteknologi modern. Suhu di bawah 5°C selama musim dingin biang keladi turunnya kualitas buah di pegunungan
yang berarti awan putih itu. Makanya pepaya perlu dirumahkan.

Memasuki The Guangzhou Fruit Science Research Institute di kota Jiufo, distrik Baiyun, Ghuangzhou, Cina, mata Trubus Iangsung tertumbuk pada sebuah rumah kaca berbentuk tunel. Rangka-rangka besi menopang atap yang diselimuti plastik UV putih. Bagian sisi cukup ditutup shading net.
Di dalamnya terlihat deretan pepaya setinggi 30—50 cm berbaris rapi dalam bedengan-bedengan. Terdapat 8 bedengan yang dipisahkan "parit" selebar 50 cm. Jarak antartanaman di dalam bedengan 1 m. Bedengan selebar 1 m itu ditutup mulsa plastik. Pada salah satu sisinya membujur pipa PE hitam. Pipa lateral itu dilengkapi pipa lebih kecil—disebut spaghetti cube— yang ditancapkan di setiap pohon.
Rumah kaca mutakhir
Di seberang bangunan berbentuk tunel itu terdapat greenhouse lain yang lebih besar. Rumah kaca berbentuk punggung babi {piggy back) itu lebih mutaknir. Atap bangunan terbuat dari solar tuffyang bisa dibuka tutup. Begitu pula dengan jendela-jendela di setiap sisi samping. Sistem pengairan persis seperti di dalam greenhouse pertama.
Rumah kaca seluas 2.000 m3 itu dikelola secara komputerisasi. Terdapat 2 komputer yang mengatur jadwal pengairan dan pemupukan. Suhu dan kelembapan juga diatur. Suhu ideal di dalam ruangan 25—28°C. Begitu sensor menunjukkan suhu terlalu tinggi, atap dan jendela secara otomatis terbuka. Keduanya menutup kembali setelah suhu stabil. Kestabilan suhu dijaga oleh kipas-kipas raksasa yang ada di salah satu dinding rumah kaca.
Di sana terdapat pepaya dewasa | setinggi 2 m yang digelayuti puluhan buah berukuran kecil seperti hawaii. "Ini; pepaya meizhonghong," tutur Zhang Zhi Ping, peneliti yang menemani Trubus] berkeliling. Varietas yang namanya berarti merah dan cantik itu paiing populer di Cina dan menjadi ungguian.
Gara-gara musim dingin
Pepaya yang ada di pasar umumnya berasal dari kebun konvensional. "Penanaman di dalam greenhouse ini untuk riset," ujar Zhang Zhi Ping. Pepaya asal daerah tropis yang kaya matahari dan udara hangat. Begitu suhu udara mencapai di bawah 5°C—seperti saat musim dingin di Gunung Baiyun, lokasi pusat penelitian—kualitas buah turun. Rasa meizhonghong yang manis berubah menjadi pahit. Makanya pepaya ditanam di dalam rumah kaca agar terhindar dari udara dingin. Dengan cara itu tanaman pun aman dari serangan hama penyakit.
Greenhouse pepaya yang dikunjungi Trubus itu ujicoba pertama. Hasilnya cukup memuaskan. Tanaman berumur 1 tahun menghasilkan 28 pepaya grade A. Bobotnya 0,5—0,7 kg, berdaging merah, dan manis. Kualitas itu yang diminta pasar. Di lahan terbuka rata-rata 22—25 buah, malah ada yang cuma 18 butir. "Sebenarnya produksi meizhonghong lebih dari itu," Ianjut Zhang Zhi Ping. Hanya saja buah-buah akhir berbobot di bawah 0,3 kg seperti yang Trubus saksikan dipanen untuk pakan sapi.
Menurut Zhang waktu panen pepaya dalam rumah kaca lebih cepat. Bila pepaya ditanam pada Maret, bunga mulai muncul Juni. Buah sudah dapat dipanen pada Agustus. Kalau di lahan terbuka pemanenan mundur sebulan. Kebun pusat penelitian seluas 2.000 ha itu juga memproduksi pepaya di lahan terbuka untuk dijual ke pasar.
Bibit meizhonghong berasal dari kultur jaringan. The Guangzhou Fruit Science Research Institute memang salah satu penghasil bibit kultur jaringan ternama. Selain menggunakan pupuk kimia, pusat penelitian sejak 1982 itu menggunakan tanah sisa tambak yang kaya bahan organik dari sisa pakan dan kotoran ikan. Pemberian dicampur sekaligus dengan media tanah. Pada saat setinggi 1 m, pohon dirundukkan menggunakan 2 tali yang diikat erat ke tanah. Tujuannya agar tanaman tetap kerdil sehingga mudah dipanen.
Di Taiwan untuk atasi hama
Sampai sekarang baru di The Guangzhou Fruit Science Research
Institute pepaya ditanam di dalam rumah kaca. Di tempat lain yang bersuhu lebih hangat cara itu merupakan pemborosan.
Sebenarnya beberapa petani di Tainan, Taiwan Tengah, juga "merumahkan" kebun pepaya tainung No.4. Namun, "rumah kaca" di sana lebih sederhana. Trubus melihat tonggak-tonggak kayu berukuran 2 kali lipat tinggi tanaman ditancapkan di beberapa lokasi. Itu untuk menyangga shading net yang dibentangkan menutup sisi samping dan atas kebun. Di negara Kepulauan Formosa itu rumah hanya untuk menghindari serangan hama lalat buah. (Evy Syariefa)
*) disadur dari Majalah Trubus

Baca Selengkapnya... >>

Budi Santoso Bergantung pada Pepaya


Budi Santoso Bergantung pada Pepaya


Dari sekadar petani kecil dengan populasi 600 tanaman, kini ia menjadi pemasok rutin pepaya taiwan ke beberapa pasar di Jawa Barat. Meski hanya mengambil margin Rp50/kg, setiap bulan ia meraup untung minimal Rp6-juta. Padahal masih ada tambahan
Omset l4-juta per bulan hasil panen 4 ton/minggu dari 2 ha lahan yang dikelola sendiri. Tak heran jika Budi Santoso tak pernah berpaling dari komoditas yang digeluti sejak 1985 itu.

Pagi itu jarum jam bam menunjuk angka 7 ketika sebuah truk merah bernomor polisi AG 3248CA memasuki areal lahan milik Perum perhutani KPH Blitar di Desa singin. Kecamatan Sanan Kulon, Kabupaten Blitar. Di sana 150 ha pepaya ditanamn di antara tegakan jati, mahoni, dan tanaman kehutanan lain berumur muda. Sekitar 20 ha di antaranya milik 8 perkebun Lin Budi Santoso.
Tak berapa lama Harno, pengawal Kebun, memimpin 6 burah petik mcnerobos tegakaan jati menuju pertanaman pepaya. Satu persatu buah diseleksi. Buah dengan semburat kuning kemerahan segera dipetik dimasukkan Keranjang.
Sebelum dinaikkan ke atas truk bertuliskan Duta Buah, setiap keranjang yang terisi penuh ditimbang. Dengan cermat hasil penimbangan dicatat. lengkap dengan nama milik kebun. Tak kurang dari 10 petak kebun didatangi untuk memenuhi kapasitas angkut truk 4-4,2 ton.
Saat Trubus berkunjung pertengahan oktober. warga Desa Bendo Tugurante,Kecamatan Ponggok. Kabupaten Blitar itu sedang mempersiapkan pengiriman 1 truk papaya ke salah satu pedagang besar di Pasar Rengasdengklok, Karawang. Hari itu 1 truk yang diberangkatkan. Pasalnya, "Bulan ini buah di pohon sudah panen terakhir," katanya
Pasok 6 pelanggan
Saat ini Budi memang salah satu Bandar pepaya terbesar di wilayah Kabupaten Blitar. Dengan bendera Duta Buah ia memasok 6 pelanggan tetap di pasar di Jawa Barat. Yakni Gedebage. Bandung; Pamanukan; Brebes; Losari: Ciledug, Cirebon; dan Karawang. Tak heran jika ia bisa mengirim 4 truk per hari saat panen melimpah pada Mci hingga September. Namun, begitu pasokan berkurang pada bulan Oktober, ia terpaksa mengatur jadwal pengiriman. Pasokan ke Rengas-dengklok misalnya, hanya dilakukan 4 hari sekali. Frekuensi pengiriman ke pasar lain pun berkurang.
Padahal, selain panen 4—4,2 ton per minggu dari 2 ha kebun sendiri, pasokan diperoleh dan 15 pekebun binaan di Kecamatan Ponggok dan Kecamatan Sanan Kulon, Blitar serta Kecamatan Ngancar, Kediri. Setiap pekebun mcnghasilkan panen rata-rata 0,5—I ton per 2 hari. lajuga masih mengambil 1—2 ton pepaya dari 4 orang bakul kecil 2—3 hari sekali.
Untuk "mengikat" pekebun binaan laki-laki berkumis tebal itu memberi pinjaman bibit, pupuk, atau uang tunai untuk keperluan rumah tangga pekebun. Nilainya mencapai Rp5-juta—RplO-juta per bulan. Dengan cara itu pekebun enggan menjual hasil panen kepada pengepul lain.
Untung Rp50/kg
Pepaya dibeli dari petani dengan harga bervariasi. Pekebun yang pinjamannya telah lunas atau tidak memiliki pinjaman memperoleb harga Rp700—Rp750 per kg. Sedangkan yang masih berhutang dipotong Rp200—Rp300 per kg.
"Potongan itu untuk melunasi pinjaman si pekebun," urai kelahiran Bendo, Blitar 44 tahun lalu. Dengan harga jual Rpl.OOO/kg, keuntungan yang diterima suami Sutiyah itu paling tinggi Rp50/kg. Soalnya, ia hams mengeluarkan ongkos kirim sebesar Rp900.000/truk. Belum lagi ongkos petik borongan Rp 180.000/truk dan biaya4jiaya lain di pcrjalanan yang mencapai Rp 100.000 sekali jalan.
Meski hanya memperoleh keuntungan Rp50/kg, ia tak pernah berpaling dari bisnis Caricapapaya itu. Dari komoditas itulah lelaki yang hanya sempat mengecap pendidikan tingkat dasar itu kini menikmati hidup layak. Selain sebuah rumah permanen yang cukup luas, ia juga memiliki 2 truk berkapasitas 4 ton untuk memperlancar usaha. Jalan panjang Kisah sukses ayah 2 putra itu diperoleh setelah melalui perjalanan panjang dan berliku selama 17 tahun. Kasus piutang jutaan rupiah yang tak tertagih bukan baru sekali dialami. Tak jarang ia harus menanggung kerugian saat harga jual rendah atau pasokan ditolak lantaran daya beli konsumen menurun di musim hujan.
Ketika memulai usaha pada 1985, ia hanyapunya 600tanaman. Daripopulasi sebanyak itu dipanen 650 kg/minggu. Hasil panen Iangsung diborong bakul desa Rp50/kg. Nilai yang cukup besar untuk saat itu. "Makanya saya tertarik me-nambah 300 tanaman lagi," papar Budi.
Sukses berlanjut saat ia dipercaya mengelola 3 ha kebun milik salah satu lembaga penelitian di Malang. Dari sana pula ia mengenal liku-liku pemasaran pepaya. Pertama kali memasarkan pada 1991 ke Surabaya, Budi mengantungi keuntungan Rpl5/kg. Dengan pasokan minimal 10 ton pepaya taiwan per hari Rp 150.000 laba bersih diperolehnya.
Mulai 1994, ia kembali menanam pepaya di lahan sewaan seluas 1 ha. Usahanya terus berkembang hingga bisa membeli 1 unit truk pada 1995. Dengan armada tunggal itulah ia memasarkan sendiri hasil panen. Satu per satu pasar di Jawa Barat dijajaki, meski harus mejual secara eceran 1—2 kuintal per hari.
Jerih payah itu tidak sia-sia. Kini Budi bisa melempar 4 truk setara 16—17 ton per hari. Untuk memperlancar usaha, ia pun membeli 1 truk lagi pada 2000. Ia menambah areal penanaman menjadi 2 ha di lahan Perhutani. Meski begitu, ia tetap saja "angkat tangan" untuk memenuhi per-mintaan beberapa bandar besar di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan DKI. "Kalau mau dituruti, minimal 6 truk per hari yang harus saya pasok," tegasnya mengakhiri percakapan. (Fendy R. Paimin)
*) disadur dari Majalah Trubus

Baca Selengkapnya... >>

Pilihan Pekebun Cari Untung


Pilihan Pekebun Cari Untung


Setiap 5 hari kesibukan terlihat di kebun Warso di Desa
Karangnongko, Mojosongo, Boyolali. Waktu itu ia menuai 3 ton
pepaya dari lahan seluas 1,5 ha. Dari hasil panen itu sang kepala
desa mengantungi keuntungan Rpl4-juta pada tahun pertama
produksi. Keuntungan terus berlipat hingga tanaman diremajakan
umur 3 —5 tahun. Makanya ia mantap berujar, " Tanam pepaya
lebih menguntungkan ketimbang lombok."

Harga cabai yang fluktuatif dan biaya produksi kian meroket memantapkan niat pria tinggi kurus itu untuk hijrah menanam pepaya pada 1999. Hitung-hitungan di atas kertas, 1 ha cabai membutuhkan biaya Rp35— 40juta. Bila harga sedang baik—Rp6.000 per kg—usai panen diperoleh keuntungan Rp36-juta per musim. Namun, begitu harga jatuh—Rp 1.500 per kg—kerugian mencapai Rp20,8-juta.
Belum lagi Capsicum annum itu butuh perawatan intensif: lahan bermulsa, pemupukan rutin, dan pemberantasan hama penyakit secara berkala. Tanpa itu, jangan harap pohon berproduksi maksimal 0,8—lkg.
Biaya Pingan, langsung untung
Bandingkan dengan pepaya. Warso cukup membenamkan modal Rpl8-juta per 1,5 ha pada tahun pertama. Pada umur 10—11 bulan buah sudah bisa dipetik dengan interval 5—10 hari. Semakin tua pemetikan kian sering karena produksi per pohon meningkat. Pada umur 2 tahun atau setahun setelah panen perdana, diperoleh keuntungan Rp20-juta per tahun. Keuntungan terus berlipat tahun berikutnya karena pekebun tinggal memanen tanpa mengeluarkan biaya berarti.
Perawatan pun terbilang mudah. Pekerjaan berat dilakukan pada saat pengolahan lahan dan penanaman. Pcmbcrian pupuk kandang bersamaan dengan penanaman. Selang 45 hari diberi pupuk Urea, TSP, dan KC1 yang diulang sebulan sekali hingga panen pertama. "Setelah berbuah umumnya tanaman hanya diburabun tanpa pemupukan dan penyemprotan hama penyakit," kata Sri Waluyo, pekebun dan pembibit di Desa Jomboran, Mojosongo, Boyolali.
Menanam pepaya pun bisa disambi pekerjaan lain. Bila tak sedang memanen, Soleh, pemilik 100 pohon di Desa Pasirgaok, Bogor, hanya datang ke kebun pada pagi hari. Selesai membumbun, menyiangi, atau menyiram tanaman pada pukul 10.00 ia membawa sepeda motor ke pangkalan ojek.
Makanya sejak 2 tahun terakhir sebagian besar lahan cabai di Boyolali beralih menjadi kebun pepaya. Apalagi lahan tanah berpasir di sana cocok untuk penanaman kates. Tembakau yang scmula banyak diusahakan pun mulai ditinggalkan. Penanaman pepaya terpusat di 3 desa di Kecamatan Mojosongo, yaitu Jomboran, Karangnongko, dan Butuh. Rata-rata satu keluarga memiliki 300 pohon. Tak heran bila di sepanjang jalan Boyolali—Solo atau Boyolali—Klaten terhampar kebun-kebun pepaya. Penduduk setempat menyebutnya pepaya thailand, meski sosok pohon dan buah mirip varietas cibinong alias pepaya bangkok.
Usaha pembibitan pun ikut berkembang. Setiap musim tanam Sri Waluyo menyediakan minimal 70.000 bibit pepaya siap tanam. Bibitsetinggi 12 cm dijual Rp300 per batang; ukuran 20 cm, Rp500.
Pembeli datang
Carica papaya juga jadi pilihan para petani di Bogor, Malang, dan Blitar. Penanaman pepaya hawaii di Pontianak dm Singkawang, Kalimantan Barat, terus dipcrluas secara bertahap. Menurut Ir H Fathan A Rasyid, MAg, kepala Dinas Pertanian Kalimantan Barat, pada 2001 terdapat penambahan 50 ha di Pontianak dan 25 ha di Singkawang.
Kepemilikan lahan di Desa Pasirgaok, Kampung Rancasari, Kecamatan Rancabungur—salah satu sentra di Bogor—rata-rata 300-—800 pohon. Kebanyakan yang ditanam papaya cibinong. "Kalau dibandingkan singkong yang semula banyak ditanam petani, hasilnya jauh," tutur Okin Suciadi, pekebun sekaligus pengepul. Padahal umur tanaman hingga siap panen sama, yaitu 10—11 bulan.
Ketela pohon hanya dipanen sekali dengan harga sangat rendah Rp300 per kg. Pepaya dipanen berulang-ulang hingga berumur minimal 3 tahun. Dengan perawatan cukup baik, pada panen pertama selama 3—4 bulan dituai 30—40 kg per pohon. Biaya produksi hingga panen pertama Rp 12.500 per pohon. Bila harga Rp500 per kg diperoleh pendapatan minimal Rp 15.000 atau laba Rp2.500 per pohon. Artinya, modal langsung tertutupi.
Pekebun tak khawatir buah tidak terserap pasar. "Bandar dan bakul dari berbagai kota—termasuk Jakarta-—datang sendiri ke sink Semakin Iuas penanaman pembeli semakin banyak," kata Warso. Begitu pembeli datang, buah dipanen, ditimbang, dan dibayar.
Setiap hari Sri Rejeki-—pengepul di Desa Jomboran, Mojosongo, Boyolali-b e r k e 1 i 1 i n mencari pepaya ke 3 desa. Pepaya dibeli Rp 1.200— Rp 1.300 per buah. Di sana umumnya kates memang dijual per satuan, bukan kiloan. Ibu 3 anak itu lantas menjual pada
pedagang antarkota dan kakilima sepanjang ruas jalan Teras—Boyolali Rp 1.500 per buah. Di sana ada 110 pemilik jongko yang khusus menjajakan pepaya. Jongko milik Pursaidi, misalnya mampu menjual 10— 20 buah—tergantung ramai-tidaknya pengguna jalan-—seharga Rp 1.500—-Rp2.000 per buah.
Sri juga rutin memasok pepaya ke sebuah pondok pesantren moderen di Indramayu 2 kali seminggu. Sekali pengiriman 1.200 buah berkulit mulus, bobot 2,5 kg, dan sudah bersemburat kuning. Buah tak layak jual segar, seperti kulit rusak diserap, industri pengolahan saus. Harganya lumayan, Rp500 per buah.
Kcmudahan pemasaran juga dirasakan Soleh. Pemuda tanggung itu memperoleh harga Rp500 per kg dari pengepul desa yang datang mengambil 10 hari sekali. Kebun Syamsulbahri di Ciapus, Bogor, pun rutin disambangi pengepul sekali seminggu meski lahan terpencil. Ia terpaksa menolak permintaan 10 ton per hari karena baru bisa memanen 4 ton per minggu.
Pasar terbuka
Mudahnya pekebun menjual hasil panen lantaran pepaya selalu terserap pasar. Yohannes, pekebun di Sianten Hulu, Pontianak, cukup menjajakan pepaya hawaii dari kebun sendiri di pinggir jalan depan rumah. Sekilo pepaya berisi 5—6 buah laku Rpl.500—Rp2.500. Rata-rata 1 ton ludes dalam seminggu.
Abdul Wahid, pengepul di Malang, membutuhkan 3—4 truk setara 12,6—17,2 ton per hari untuk memasok bandar di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur. Yang diminta pepaya bangkok super berbobot 2—4 kg. Untuk memenuhinya ayah 2 anak itu mcngebunkan sendiri seluas 5 ha dan menjalin kcmitraan dengan 300 petani. Kemitraan juga dilakoni H Yahya Ghazali supaya bisa menjamin pasokan 1 truk per hari pada bandar di Pasar Baru, Bekasi dan Tanahabang, Jakarta Pusat.
"Sebenarnya permintaan banyak sekali, pasar Jakarta masih bisa menampung Iebih banyak," tutur Wahid. Banyak bandar, misal di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, belum bisa dilayani mantan pedagang jeruk itu. la berharap tahun depan bisa mengirim 5—6 truk per hari. Tambahan pasokan diperoleh dari perluasan lahan milik sendiri dan mitra.
Budi Santoso "angkat tangan" memenuhi permintaan 6 truk pepaya dari beberapa bandar besar di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta. Pasalnya, untuk memasok pelanggan di Bandung, Pamanukan, Brebes, Losari, Cirebon, dan Karawang 4 truk per hari saja, pekebun dan pengepul di Desa Bendo Tugurante, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, itu sampai harus "mengikat" mitra dengan pinjaman modal.
Memang pada akhir tahun serapan pasar cenderung turun karena masuknya buah-buahan tahunan, seperti mangga, durian, dan rambutan. "Tapi tidak jadi masalah karena biasanya bulan 11—12 pepaya memang hampir ngga ada buahnya," kata Wahid. Panen raya jatuh pada Juni—September saat kemarau dan pepaya banyak dicari.
Mudah ditipu
Manisnya mengusahakan pepaya bukan tanpa kendala. Produksi pepaya hawaii di Pontianak dan Singkawang menurun pada periode 1999—2000. Itu akibat serangan penyakit—didugapapaya ring spot virus—yang mematikan. Umur produksi pepaya menjadi sangat pendek— 2 tahun, padahal biasanya A—5 tahun.
Akibatnya pasokan ke Jakarta mandeg. "Padahal waktu itu pepaya pontianak sangat disukai konsumen Jakarta," papar Ir Uray Ramly, kasie Pengembangan Produksi Hortikultura, Subdin Bina Produksi Hortikultura, Dinas Pertanian Kalimantan Barat. Permintaan akhirnya dipenuhi pekebun di Lampung dan Jawa Barat.
Sembarang menggunakan bibit menyebabkan tanaman mudah terserang penyakit mati bujang. Tanaman remaja mula-mulakeringlalumati. "Itu biasanya karena petani menggunakan bibit hasil buatan sendiri dari pohon induk yang belum cukup umur," kata Okin Suciadi. Padahal petani sudah mengeluarkan biaya perawatan Rp 12.500 per pohon—untuk bangkok. Agar petani tak mewgi, bibit diambil dari pohon induk berumur minimal 3 tahun.
Preferensi konsumen pun perlu dipertimbangkan. Okin akhirnya menebang tanaman pepaya hawaii lantaran kurang digemari. Sebaliknya, pengembangan bangkok di Pontianak tidak berjalan karena daya serap pasar setempat kurang. Bila dikirim ke Jakarta tidak mampu bersaing dalam harga dan kualitas dengan bangkok asal Jawa.
Pedagang pun tak selamanya beruntung. "Bandar di pasar banyak yang hanya sewa lapak. Setelah 2—3 kali barang dikirim, ia kabur entah ke mana," keluh Budi Santoso. Padahal, jarang ada bandar yang langsung membayar lunas—' makanya pengepul harus bermodal besar. Piutang jutaan rupiah yang tak tertagih bukan sekali ia alami.
Pepaya eksklusif
Namun, bila kendala itu bisa diatasi mengusahakan pepaya layak jadi pilihan. "Pasar terjamin, perawatan enteng, tapi menguntungkan," tegas Warso. Keuntungan pekebun semakin berlipat bila yang ditanam pepaya eksklusif. Okin menikmati harga Rp2.000 per kg dari penjualan pepaya kalifornia. Anggap panen buah pertama selama 3-4 bulan mencapai 30 kg per pohon. Berarti diperoleh pendapatan Rp60.000 per pohon atau laba senilai Rp45.000 setelah dikurangi biaya perawatan Rpl5.000. Padahal setiap minggu ia memanen 5—6 kuintal dari 700 pohon.
Pemasaran pun sangat mudah karena jarang yang mengusahakan. JK Soetanto baru sanggup memasok 2 ton kahfornia per hari untuk Matahari, Superindo, Hero, dan Diamond. Permintaan dari hypermarket Carrefour sementara belum dilayani karena terbatasnya produksi.
Pepaya eksklusif juga dibidik Eric Wiraga. Pekebun di Subang itu menanam pepaya asal Taiwan. Hasil panen diambil pengepul dari Bandung Rp3.000 per kg. Untuk menekan serangan hama ia berencana menanamnya di dalam greenhouse. (Evy Syariefa/Peliput: Karjono dan Fendy RP)
*) disadur dari Majalah Trubus

Baca Selengkapnya... >>

Sawo Jumbo asal Vietnam


Sawo Jumbo asal Vietnam


Ini dia sawo istimewa asal Vietnam. Ukuran jumbo, 1 kg berisi 2 —
3 buah, bandingkan jenis lokal5—6 buah per kg. Saat dimakan rasa
manis dan gurih menggoyang lidah. Kelebihan lain ia tahan
pengangkutan dan bisa disimpan seminggu—lokal hanya 3 —
5 hari—karena berkulit keras. Lantaran itu Triman, pekebun di
Blitar berencana mengebunkan seluas 5 ha.

Penampilan sawo Vietnam memang menarik. Buah oval berkulit cokelat muda mencapai bobot 400 g. Ketika permukaan kulit diraba terasa halus dan lembut. Begitu dibelah tampak daging tebal cokelat keputihan dan mengkilap. Rasanya manis hingga 14 griks, sawo lokal 11-12 griks. Jumlah biji 2—3 buah.
Kendati matang di pohon, kulit tetap keras. Oleh karena itu, "la cukup tahan pengangkutan dan daya simpannya hingga seminggu," kata Prakoso, kolektor dan penangkar buah di Demak, Jawa Tengah. Dua hal itu kendala pemasaran sawo lokal selama ini.
Dari Thailand
Prakoso membawa bibit dari salah satu rekan di Thailand setahun silam. Ukurannya 2 jengkal tangan atau sekitar 40 cm. Setelah ditanam, ternyata sawo tumbuh subur. Kini pohon itu sudah setinggi 1/2 m. "Kemarin muncul 14 bunga, tapi saya rontokkan dan disisakan 2 buah. Kasihan, ranting belum siap menahan buah sebesar itu," ucapnya. Menurut Prakoso sawo Vietnam cukup populer di negara asalnya. "Dulu sawo itu ditanam sebagai peneduh di halaman rumah. Namun, begitu laku dijual di pasar mulailah orang mengebunkan skala komersial," ujar ayah 2 anak itu. Musim panen di sana jatuh pada Juni—Juli. Produktivitas setiap pohon umur 4—5 tahun mencapai 100 buah ] tahun. Lantaran perbedaan agroklii sawo yang ditanam Prakoso baru berbunga pada Juni. Artinya ia baru bisa dipaoen pada Agustus—September.
Prakoso memperbanyak sawo vietna dengan sambung pucuk. Sebagai batang bawah ia dipakai sawo manila dan kecik Keduanya cukup bandel untuk ditanam daerah pantai utara Jawa. "Perakaranm cukup kuat dan dalam. Ketika kemara mereka mampu bertahan meski tan| disiram. Kalau sawo apel layu," katanya
Pupuk ekstra
Perawatan sawo Vietnam cukup mudah. Jaraktanamideal7mx7m. Can penanaman sama dengan sawo bias "Hanya saja agar mendapat buah manis harus diberi pupuk ekstra," ujar Prakoso.
Pupuk kandang diberikan rutin setiap 6 bulan sebanyak 10 kg per tanaman. Tambahkan pula NPK 15 15 15 sebanya 200 g. Tahun berikutnya dosis pupuk ditambah 10—20%. Bunga muncul ketilc tanaman berumur 1 tahun atau setinggi 1/2 m. Namun, idealnya ia dibuahkan setelah berumur 2 tahun. Alasannya selain untuk pembentukan tajuk. juga cabang belum kuat menopang buah.
Aplikasi pupuk daun rutin setiap minggu. Dosisnya tergantung petunjuk pemakaian yang tertera di label. "Yang perlu diperhatikan ketika bunga muncul pemberian pupuk daun distop seminggu sebelumnya. Setelah terbentuk penti sebesar kelereng, pupuk daun dilanjutkan kembali," ucap Prakoso.
Hama yang perlu diwaspadai kuts putih. Biasanya ia muncul menjelang musim kemarau di bawah daun. Bii dijumpai 5 tangkai terserang langsung semprot dengan insektisida sistemik seperti Curacron atau Regent. Dosis In3 1 air. (Nyuwan SB)
*) disadur dari Majalah Trubus

Baca Selengkapnya... >>

Satukan Nona dan Srikaya


Satukan Nona dan Srikaya

Tertarik mengepotkan srikaya, tetapi enggan memangkas ranting? Cobalah meniru cara Prakoso Heryono. Pekebun aneka buah di Demak, Jawa Tengah, itu mengokulasi srikaya. Buah nona Annona reticulata sebagai batang bawah; atas, srikaya merah Annona squamosa. Mereka sama-sarna anggota Famili Annonaceae dan berasal dari Amerika tropis. Diameter batang 3 cm atau seukuran telunjuk tangan.

Kemulwa alias buah nona dipilih sebagia batang bawah lantaran tahan kering. Untuk mempercepat pertumbuhan, ukuran batang bawah -dan atas sebaiknya sesuai, katanya. Hasii okulasi berupa 5 tanaman bertahan hidup hingga sekarang. Kelima srikaya itu tumbuh di tanah— bukan di pot. Menurut Prakoso pertumbuhan srikaya okulasi relatif lambat. saat ini tinggi tanaman ber-umur 12 tahun itu hanya 1,2—1,5m dengan diameter batang 4—6 cm
Cepat berbuah
Bila tanpa okulasi tinggi srikaya merah umur 12 tahun mencapai 5—7 m. Menurut Nonot—demikian ia akrab disapa—jika ditanam di pot, kemungkinan sosok lebih pendek. Keistimewaan srikaya okulasi, lebih cepat berproduksi. Setahun setelah okulasi, pohon belajar berbuah; normal, umur 3 tahun baru berproduksi. Prakoso hanya mempertahankan 2—3 buah per pohon lantaran cabang masih kecil. Produksi terus meningkat seiring pertumbuhan umur. Saat ini Prakoso menuai 40—70 buah dari setiap pohon. Yang lebih penting rasatetap manis. Sosok pendek, sarat buah, paduan buah merah dan daun hijau, dan perawatan mudah. Syarattepat tabulampot untuk menghiasi halaman rumah Anda.
Srikaya memang relatif mudah berbuah. Sayangnya, mengabaikan pemangkasan berarti pembuahan terhambat. Itu tak berlaku bagi srikaya okulasi. Sarjana Hukum itu Cuma sekali memangkas cabang atau ranting ketika tanaman buah berumur 6 tahun. Setelah itu tanaman di biarkan tumbuh alamiah. (Sardhi Duryatmo/Peliput: Karjono)
*) disadur dari Majalah Trubus

Baca Selengkapnya... >>

Lautan Srikaya Sarat Buah di Pakchong


Lautan Srikaya Sarat Buah di Pakchong


Wuih... betapa menakjubkan! Pohon setinggi rata-rata 1,5 m
digelayuti30—40 buah srikaya seukuran 2 kepalan tangan. Di
sudut Pakchong, Provinsi Nakhon Ratchasima, itu Nucharee
Saipanvittaya mengelola 15.600 pohon srikaya australia di lahan
300 ha. Pertumbuhan tanaman seragam. Ke mana pun pandangan
diarahkan yang tampak hanya lautan srikaya sarat buah.


Pantas jika kebun srikaya itu menjadi percontohan bagi pekebun lain. Tak berlebihan juga bila calon pekebun magang beberapa pekan di farm Nucharee. Maklum, Pakchong memang sentra srikaya di Thailand. Itu tampak dari jalan menjelang kebun Nucharee. Di kiri dan kanan jalan sepanjang 4 km Trubus menyaksikan hamparan perkebunan srikaya.
Farm Nucharee dikunjungi rombongan agrowisata Trubus pada hari pertama beberapa bulan silam. Begitu tiba di lokasi, 26 peserta berjalan menyusuri lorong— area kosong di antara 2 lajur penanaman. Kebun tampak resik. Di bawah kanopi berbentuk membulat praktis tak ada gulma. Buah-buah matang menghiasi ranting yang menjulur ke sana ke mari.
Matang pohon
Buah mulus, tampak ranum. Siapa mampu menahan keinginan untuk menikmati? "Boleh nggakya, mencicipi?" tanya Ir Abdul Muas Msi sembari mengelus pangkal buah. Peserta dari Sulawesi Selatan^ im mengurungkan niat memetik srikaya barang sebuah setelah panitia melarang. Namun, rasapenasaranterjawab. Beberapa buah berpenampilan bagus tergeletak di bawah tajuk akhirnya diambil. Saking matangnya buah jatuh dari ranting.
Dengan kedua tangan mudah saja buah dibelah menjadi 2 bagian. Kulit tipis membungkus daging buah putih bersih. Rekan-rekannya merubung ingin me-ngetahui rasa buah yang menebarkan aroma harum itu. "Manis?", tanya seorang rekan. Ketika mulut menguyah, Muas tak mampu menjawab pertanyaan itu.
Namun, berkali-kali ia menganggukkan kepala pertanda buah sangat manis. Serta-merta mereka pun mengikuti jejak Muas: memungut buah di bawah tajuk. Buah jatuhan itu tetap berpenampilan prima. Setelah mereka merasakan lembutnya daging buah, hmm...betapa manisnya.
Bibit gratis
Itulah hasil kerja keras lajang 40 tahun mengembangkan anggota famili Annonaceae. Perempuan itu mengembangkan Annona squamosa sejak 5 tahun silam secara bertahap. Penanaman pertama pada 1997 sebanyak 6.000 bibit; 2 tahun kemudian membudidayakan 8.000 bibit. Pengembanganterakhir pada 2000 tercatat 1.600 bibit.
Nucher tak harus merogoh kocek untuk membeli bibit. Pasalnya, Dinas Pertanian setempat mengimpor dari Australia, memperbanyak, dan menye-diakan gratis untuk calon pekebun. "Petani juga dibimbing, diberi pengarahan cara budidaya, bahkan pemasaran," ujar Penpimoi Deesuan, staf Dinas Pertanian Pakchong.
Puas berkeliling kebun peserta berkumpul di sebuah bangunan sederhana berukuran sekitar 11 m x 10 m di tepi lahan, Bangunan itu terbagi 2 masing-mastng ruang terbuka—tanpa dinding— dan gudang tempat menyimpan sarana produksi. Tiga buah traktor berwarna oranye tampak di sisi gudang. Di ruang terbuka itulah Nucharee menyambut kcdatangan rombongan.
Terjual di kebun
Sembari mengumbar senyum perem-puan yang mengenakan paduan celana panjang hitam dan hem blue jeans itu menuturkan, "Swasdee, khrap (selamat datang, red) di kebun kami." Kedua tangannya mengatup dan ditempelkan di dada sebagai tanda rasa normal. Sarjana ekonomi itu menjelaskan singkat teknoiogi budidaya srikaya australia. Sekitar 5—10 kg pupuk kandang dibenamkan di setiap lubang tanam. Jarak tanam 4 m x 6 m sehingga populasi 400 tanaman per ha.
Soalnya, srikaya australia meng-hendaki tanah kaya hara. Menurut Nucharee waktu penanaman paling pas menjelang musim hujan. Oktober saat pemupukan. Buah siap panen 45 hari setelah tanaman berbunga. Dari 3 kali pengembangan, baru 8.000 tanaman yang berproduksi. Penanaman terakhir sebanyak 1.600 tanaman—saat ini berumur 2 tahun—belum menghasilkan. Nucharee memprediksi pada tahun depan tanaman itu bakal mcnyusul berbuah.
Tanaman berumur 3 tahun yang baru belajar berbuah hanya menghasilkan 5 kg per tahun; 5 tahun, 20 kg. Produksi terus meningkat hingga tanaman berumur 12— 15 tahun dan akhirnya menurun hingga umur 20 tahun. Dengan umur tanaman beragam setiap tahun rata-rata dituai 160 ton. Dari hasii penjualan itu laba bersih yang diraup Nucharee mencapai Rp287-juta per tahun atau hampir Rp24-juta per bulan.
Ia mudah saja memasarkan srikaya. Pengepul mendatangi kebun saat panen tiba. Produksi Nucharee mengisi berbagai pasar lokal di Thailand seperti Simumaeng, Mahanang, Otoko, Talatai, dan Pakchong. Sementara ekspor ke Singapura dan Hongkong saat ini tengah dijajaki. (Sardhi Duryatmo)
*) disadur dari Majalah Trubus

Baca Selengkapnya... >>

Munculnya 3 Primadona Baru


Munculnya 3 Primadona Baru


"Wouw, benar-benar manis dan renyah,"komentar seorang
wanita muda ketika mencicipi jambu air pink rose apple yang
disajikan JK Soetanto, pemilik PT Bogatani. Kadar manis jambu
air asal Thailand itu memang mencapai 10,4°brix. Tak hanya rasanya, penampilan buah pun membuat setiap orang terpesona.
Betapa tidak, buah berbentuk lonceng itu mulus mengkilap dengan warna pink merata. Ukuran lumayan besar, 10 buahlkg.


Pink rose apple berumur 2 tahun di halaman rumah Tanto, panggilan akrab JK Soetanto sudah 2 kali berbuah. Saat Trubus berkunjung ratusan buah menggelantung di pohon setinggi 2,5 meter. Buah penuh mulai dari pangkal hingga ke bagian tengah percabangan. Setiap dompolan berisi 4—5 buah dibungkus kertas koran untuk menghindari lalat buah. Tak heran jika buah tampil mulus mengkilap tanpa cacat.
Ayah sepasang anak itu memper-kirakan bakal memanen sekitar 30 kg per pohon. Produksi melonjak jauh disbanding panen perdanayang hanya5kg. Itu berarti ia bakal meraup Rp450.000. Sebab, pada panen perdana, April lalu, sebuah pasar swalayan di Jakarta berani membeli Rpl5.000/kg.
Menurut Tanto, pink rose apple menjadi primadona lantaran puny a kelebihan dibanding jambu air lain. Selain lebih tahan hama penyakit, rasa dijamin manis meskidipanenlebihawal. Jenislain wakta panen harus benar-benar pas untuk mendapatkan kemanisan maksimal.
Lihat saja king rose apple yang juga sedang berbuah lebat di halaman rumah di Ciputat, Jakarta Selatan itu. Ketika dipanen untuk dicicipi Trubus, rasanya kurang manis. "Mestinya 2 hari lagi baru pas," kata Tanto. Padahal jambu air berbobot 125—200 g per buah itu, kadar manisnya mencapai 11° brix. Tak heran jika di Thailand buah lonceng berwarna hijau semburat pink itu menjadi salah satu primadona ekspor.
Green rose apple juga tengah berbuah meski tak selebat pink rose apple. Bentuk bulat lonjong dengan "bibir" pink menyembul ke luar. Ukuran buah sedang, berbobot 12—15 buah per kg. Meski kemanisan hanya 8° brix, ia laku dijual Rpl5.000/kg.
Dikebunkan
Ketiga jambu air introduksi asal Thailand itu telah dikebunkan Tanto dalam skala komersial di Subang, Jawa Barat bersama 3 jambu air unggulan lokal: citra, lilin merah, dan yogya. "Semuanya ditanam pada 2001 di antara pertanaman mangga di areal seluas 40 ha," ungkapnya. Setiap ha ditanami 250 pohon dengan jarak tanam 6mx4m.
Saat ini sekitar 8.000 pohon ditanam wadah styrofoam dan dibungkus plastik film. Setiap bungkus berbobot sekitar 1 kg. Citra, green, dan pink dijual Rp15.000/kg, sedangkan yogya Rpl4.000/kg.
Menurut mantan kontraktor yang beragribisnis sejak 1986 itu, king rose apple memang lebih lambat berbuah. "Bila yang Iain berproduksi umur 1,5 tahun, king
belajar berbuah setelah umur 2 tahun," lanjutnya. Yogya malah berbuah pada umur 1 tahun dengan produksi perdana 300—400 buah. SayangnyajambuairasalYogyakarta itu kurang manis. Namun, Soetanto tetap mengembangkan karena ukuran buah besar, berbobot mencapai 8—lObuah/kg. Selain itu ia bisa berproduksi 3 kali setahun.
Pasan tepbuka
Produsen melon dan semangka ber-kualitas tinggi itu tertarik mengembangkan jambu air karena pesaing masih terbatas. "Belum banyak investor yang tertarik mengebunkan jambu air dalam skala luas," paparnya. Padahal, potensi pasar cukup baik.
Di Jakarta, beberapa pasar swalayan menunggu pasokan jambu air berlabel Bogatani. Sayangnya karena produksi masih terbatas, Tanto baru bisa melayani kebutuhan 2 pasar swalayan, yakni Diamond dan Total. Pasar swalayan Iain seperti Hero terpaksa harus menuggu tahun depan saat produksi tanaman mulai stabil.
Tak hanya di pasar Iokal, jambu air pun berpeluang mengisi ekspor. Misal Hongkong, Taiwan, Singapura, Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat. Selama ini mereka dipasok Thailand dengan harga US$4,5—US$6 per kg. Bukanhal musykil beberapa tahun lagi jambu air asal Indonesia jadi pesaing. (Fendy R. Paimin)
*) disadur dari Majalah Trubus

Baca Selengkapnya... >>

Kebun Jeruk Jarak Padat di Cikidang


Kebun Jeruk Jarak Padat di Cikidang


Bila Anda berjalan-jalan ke Lembang, Bandung, sempatkan mampir di kebun Kleantha. Di sana ada 10,2 ha hamparan jeruk yang ditanam padat: 1,5 mx 2m dan 2m x 2m. Biasanya,5m x 5m.
Dompolan buah berwarna kuning kemerahan menyembul diantara hijau dedaunan sehingga memikat selera untuk memetiknya. Beberapa cabang
disangga bambu agar tidak melengkung ke tanah dan patah karena sarat buah. Semua itu karena "tangan dingin" sangpemilikyang merawat secara intensif.

Papan kayu bertuliskan "Kleantha" berdiri tegak tepat di gerbang kebun. Begitumasuk deretan400 jeruk lamtong langsung menyambut. Tanaman tertata rapi di areal seluas 2.000 m2 dengan jarak tanam 1,5 m x 2 m. Buah yang bergelantungan boleh dipetik dan dicicipi tamu yang datang. Rasanya manis agakasam. Kulit buah agaktebal sehingga sulit dikupas. Diduga lamtong adalah siem medan yang sudah diperbaiki kualitasnya di Thailand.
Nun di puncak bukit di belakang kebun, terhampar lahan jeruk produksi. Lokasi itu masuk wilayah Cikidang, sekitar 3 km dari pusat kota. Bekas kebun teh seluas 10 ha itu dibagi dalam 2 blok. Di selatan seluas 5 ha ditanami lamtong, sisanya frimong di utara. Keduanya ditanam dengan jarak rapat 2 m x 2 m
Semua berasal dari bibit okulasi asal sebuah kebun produksi di Sumedang. Lamtong dan frimong memang andalan kebun itu. Batang bawah yang digunakan RC asal Garut yang memiliki perakaran kuat. Saat Trubus berkunjung pada Oktober buah sudah selesai dipanen 2 bulansebelumnya. Namun, beberapa buah susulan seukuran bola pingpong masih bergelantungan. Itu dipanen sekitar Januari.
Padat = intensif
Penanaman jarak padat dipilih karena memberikan hasil per ha lebih banyak ketimbang jarak tanam normal, 5 m x 5 m. Misal untuk areal 2.000 m2 idealnya ditanami 80 pohon. Populasi di kebun Kleantha 400 pohon. Bila produksi pada panen perdana 10 kg/pohon maka diperoleh 4 ton buah. Normal 800 kg. Konsekuensinya tanaman perlu perawatan intensif. Pemupukan dan pemangkasan tajuk sangat penting agar produksi maksimal.
Deradja memanfaatkan campuran kotoran kuda, ayam, dolomit, dedakhalus, tepung tulang, sekam, dan tepung kedelai sebagai pupuk dasar. Pupuk difermentasi selama 9 minggu sebelum digunakan. Ke dalam setiap lubang tanam dibenamkan sekarung pupuk setara 50 kg.
Pupuk lanjutan berupa NPK dengan perbandingan 1 : 1 : 1,5 seusai panen. Untuk menggenjot pertumbuhan diberikan pupuk mikro Hydrocomplek, Tenso cocktail, atau Tenso Fe. Dosis sesuai aturan tertera pada label kemasan. Perawatan lain penyemprotan insektisida dan fungisida 2 minggu sekali. Secara berkala cabang dan ranting tidak produktif dipangkas supaya bentuk tanaman tetap kompak ke atas. Dengan begitu tajuk tidak saling ber-singgungan.
Dengan perawatan intensif tanaman berumur 2 tahun sudah berbuah. "Saya sudah merasakan 3 kali panen. Begitu selesai panen, muncul buah baru. Kelebihan itu yang saya suka," kata Deradja. Pada panen pertama diperoleh 5 kg/pohon. Panen berikutnya meningkat 2 kali lipat; ke-3, 30 kg/pohon.
Sayang di jarangkan
Saat ini umur tanaman rata-rata 3 tahun sehingga tajuk mulai bersinggungan. Saking padatnya, "Untuk masuk di sela-selatanamansajasusah,"tuturpenggemar anggrek itu. Makanya tanaman perlu dijarangkan.
Caranya, dengan menebang setiap bans bersalang-seling ke arah horizontal dan vertikal. Menurut perhitungan pemilik toko pertanian di Pasar Panorama Lembang itu jumlah populasi yang tersisa 100 pohon. Tanpa penjarangan dikhawatir-kan produksi merosot karena persaingan mencari makan lebih ketat.
Namun, ia menunda penjarangan lantaran produksi cukup tinggi; 30 kg per pohon. Ayah 2 anak itu berencana mem-pertahankan tanaman sampai berumur 5 tahun. Setelah itu pohon dijarangkan atau ditebang semua. "Toh, waktu itu sudah balik modal dan untung," katanya.
Pria kelahiran Lembang 49 tahun silam itu malah sudah mencicipi untung sejak panen pertama. Pasalnya, untuk perawatan selama tahun pertama ia tidak me-ngeluarkan uang sepeser pun. Pembiayaan kebun diperoleh dari hasil menanam pakcoy, kol merah, dan kentang di sela-selajeruk. Wajarjika sekali panen jeruk langsung memberi untung.
Pemasaran hasil tidak menjadi masalah. Pengepul akan datang sendiri ke lahan memborong semua hasil panen. Harga borongan Rp4.000/kg. Boleh jadi kemudahan pemasaran itu lantaran para pedagang jeruk di Bandung dan Jakarta sudah lama menjadi kolega. (Nyuwan SB)
*) disadur dari Majalah Trubus

Baca Selengkapnya... >>

Duku Sumber Paling Mahal


Duku Sumber Paling Mahal


"Pelanggan saya sering minta duku sumber untuk Pak Ahmad
Suyudi, Menteri Kesehatan. Beberapa orang malah membawa ke
Singapura, Malaysia, atau Australia sebagai oleh-oleh," kata Moh.
Hamdun, penampung di Kudus. Duku itu memang istimewa,
berukuran sebesar bola bekel, manis berair, dan biji kempes. Wajar
harga di pekebun Rpl5.000/kg. Di kakilima seputar Jakarta duku
asalSumateradijualRp4.000-Rp6.000/kg.

Di Jakarta duku sumber agak sulit ditemukan karena hanya ada di toko buah dan pasar swalayan. Hamdun, satu-satunya pemasok duku sumber, hanya mengirim kepada 2 orang di Pancoran dan Glodok, Jakarta Barat. Prakoso Heryanto, penangkar bibit buah-buahan di Demak, sudah lama mendengar keunggulan duku sumber. "Tapi baru kali ini saya mencicipinya. Ternyata manis dan besar-besar lagi," ungkapnya ketika bersama Trubus berkunjung ke Desa Tenggeles, Kecamatan Sumber, Kudus. Duku sumber seukuran bola bekel mencapai 1,5—2 kali duku biasa. Sekilo isi 50 buah.
Kulit mulus
Penampilan dukuh jumbo itu pun menarik. Kulit kuning keputihan, bersih hampir tanpa bercak, dan tipis. Jenis lain berwarna kuning agak kotor dan tebal. Menurut Hamdun, kulit mulus bukan lantaran brongsong bambu agar tak diserbu kelelawar, tapi sifat genetik. Sayangnya, warna kulit berubah cokelat bila di-masukkan lemari atau ruang berpendingin. Ketika kulit di-buka tampak daging buah bening dan tebal. Bijinya kecil, bahkan beberapa kempes. Rasanya manis, bertekstur halus, lunak dan berair. "Enak loh, tidak kalah dengan duku palembang, matesi, atau tuban," kata Maya Prakoso Heryono, istri Prakoso. Jika disimpan dulu 1 hari setelah petik, rasanya lebih enak.
Tak aneh meski harga tinggi duku sumber selalu dicari konsumen. Pembelinya kalangan menengah-atas. Makanya ia tak masuk pasar tradisional, di Kudus sekalipun. "Semua hasil produksi dipasok ke Semarang dan Jakarta," kata Hamdun. Setiap hari selama 5—6 bulan ia mengirim 500—700 kg ke-2 kota besar itu. Saat panen raya pengiriman bahkan mencapai 1 ton.
Nunggu lO tahun
Duku sumber mulai bisa ditemukan pada September. Namun, pada saat itu harga masih mahal, Rp 18.000/kg di tingkat pekebun. Puncak panen setiap tahun terjadi pada Oktober—November. Saat itulah harga sedikit turun, Rpl5.000/kg. "Dulu, pada 2000-an pernah turun hingga Rp8.000 selama beberapa bulan," tutur Suri'atun mertua Hamdun pemilik beberapa pohon duku.
Karena harga tinggi, duku menjadi andalan pendapatan penduduk Kecamatan Sumber. Biasanya sebagai tanaman pekarangan 1—2 pohon setiap rumah. Belum ada yang mengebunkan khusus meski ada yang memilik hingga 30 pohon. "Dari 1 pohon bisa diperoleh pendapatan Rp2-juta—Rp3-juta. -per tahun," ujar Hamdun. Makanya memiliki pohon duku ibarat puny a celengan. Pemilik rela membeli pompa air sekadar untuk me-nyiram pohon duku. Pohon duku di Sumber rata-rata berumur 50—70 tahun dan umum-nya peninggalan orangtua. Hanya sebagian kecil berumur 10—30 tahun. Pohon berumur di atas 50 tahun produksi mencapai 300 kg; 30 tahun sekitar 200 kg. Sementara yang 10 tahun baru belajar berbuah, paling 10—30 kg/ pohon. Masa berbuah lama karena pohon ditanam dari biji. "Belum ada yang mencoba mengembangkan dari okulasi," tutur Hamdan. (Karjono)
*) disadur dari Majalah Trubus

Baca Selengkapnya... >>

Kirim Artikel & Berita

Jenis :
Nama:
Alamat :
Email Address:
Pekerjaan :
Usaha Agro Peternakan
Pertanian
Perikanan
Perkebunan
Keterangan :

form creator

UPDATE HARGA KOMODITI PETERNAKAN

Jenis :
Nama:
Alamat :
Email Address:
Pekerjaan :
Usaha Agro Peternakan
Pertanian
Perikanan
Perkebunan
Keterangan :

form creator

PASANG IKLAN FREE

Jenis :
Nama:
Alamat :
Email Address:
Pekerjaan :
Usaha Agro Peternakan
Pertanian
Perikanan
Perkebunan
Keterangan :

form creator

Form Penyusunan Ransum Ternak

Nama:
Alamat:
Kota :
Email :
Usaha Peternakan :
Lokasi Peternakan :
Jenis Formulasi Ruminasia
Unggas

Untuk Ternak Ruminasia ( 1-6 dalam kolom di atas )

Jenis Ternak Ruminansia :
Bobot Badan : (Untuk Ruminasia)
Sex Ternak :(Untuk Ruminasia) Jantan
Betina

Untuk Ternak Unggas ( 7-16 dalam kolom di atas )

Jenis Unggas : (Untuk Unggas)

Daftar Bahan Pakan

Di lihat Tabel Yang Telah Tersedia " Isikan nomernya saja"

Bahan Pakan 1 :
Komposisi :
Harga :
Bahan Pakan 2 :
Komposisi :
Harga :
Bahan Pakan 3 :
Komposisi :
Harga :
Bahan Pakan 4 :
Komposisi :
Harga :
Bahan Pakan 5 :
Komposisi :
Harga :
Bahan Pakan 6 :
Komposisi :
Harga :
Keterangan :

== SELAMAT MENCOBA ==

Kami Akan Kirimkan Formulasi Lengkap Anda Paling Lambat 1 Minggu Setelah anda mengisi Form Formulasi Pakan

untuk hasil klik di sini

http://pbpirt.blogspot.com/

* Ingat Cek Daftar Tabel yang tersedia


Free email forms

  ©Indonesia Rumah Ternak - Jayalah Agribisnis Indonesia.

Desain Dari Zon Anugera | ATAS